Senin, 04 Juli 2011

Romantisme Bulan Maret.......

Ada kehangatan pada cinta di bulan Maret
sinar matahari menerobos garis-garis gerimis
merajutkan kilau pelangi di wajahmu
aku jatuh cinta lagi padamu
karena kamu indah tatapanmu menyejukkan udara di ruang hatiku
di situ aku nyaman menghabiskan waktu bersamamu.
Aku dengarkan degup jantungmu menderap lagu
ketika kausuguhkan rindu yang hangat dan
membiarkan uapnya mengembun di pipimu
dengan telunjuk kutulis “aku cinta kamu” dan romanmu merona merah
kamu tersipu malu ku tak dapat menahan hasratku
kureguk saja bibirmu dan terasa
… ada kehangatan pada cinta di bulan Maret.

Tak Ada Yang Ku Rahasiakan Darimu

Tak ada yang kurahasiakan darimu
belantara hati ini terbuka untuk kamu jelajahi.
Kaulihat betapa kelamnya hutan habis terbabat senyumanmu
pohon-pohonnya menjelma naungan yang indah
rerumputannya bak permadani kita melangkah.
Tak ada yang kusembunyikan darimu
bahkan ketika di jurang itu aku jatuh cinta padamu.
Lihatlah danau bening dengan bunga-bunga seroja
di situlah dulu aku membendung rasa cinta
yang kini begitu deras mengaliri sungai-sungai di hatimu.

Tak Ada Yang Ku Rahasiakan Darimu

Tak ada yang kurahasiakan darimu
belantara hati ini terbuka untuk kamu jelajahi.
Kaulihat betapa kelamnya hutan habis terbabat senyumanmu
pohon-pohonnya menjelma naungan yang indah
rerumputannya bak permadani kita melangkah.
Tak ada yang kusembunyikan darimu
bahkan ketika di jurang itu aku jatuh cinta padamu.
Lihatlah danau bening dengan bunga-bunga seroja
di situlah dulu aku membendung rasa cinta
yang kini begitu deras mengaliri sungai-sungai di hatimu.

Segalanya Seluas Bola Matamu............

Tiba-tiba aku teringat pada kopi pagi yang asapnya sewangi tubuhmu
juga pada matahari yang hangatnya sehangat pelukanmu
kulihat bunga-bunga memenuhi bumi, kegembiraannya seperti ceria wajahmu
pandanganku menyisir bulu alismu, helai demi helai, dan berhenti tepat di matamu.
… lalu segalanya seluas bola matamu. Yang merahasiakan cinta dalam kerling rindu
seperti langit merahasiakan semesta dalam dinding biru.

Hujan Tengah Malam............

Hujan tengah malam
gemericiknya mengusik sunyimu
kamu terjaga. Merapat ke dalam wajahku
“Aku ingin terpejam dalam tatapanmu
yang teduh hangat,” lirih bisikmu mengulang.
Dan hujan bukanlah mimpi
menghadirkan gemuruh hatimu dalam pelukan
membiarkanku menyeka basah
embun di wajahmu.
Aku terbuai imajinasi
senyum bidadari.
Kuredakan hujan dengan dekapan
kuubah desau anginnya jadi bisikan gemas
tinggal kerdip rahasiamu di celah kerlingan
yang selalu kutafsirkan rembulan malam limabelas.
Hujan berhenti tidak untuk sembunyi, sayang
ingin mendengarkan bisikbisik kita tentang
malam indah yang panjang.

Puisi Cinta...........

Sambil nyeruput kopi panas kunikmati sepotong puisi buatan kamu
masih berasa hangat dan basah bekas ciuman di tiap hurupnya.
Puisi menjelma bunga ketika kupetik setangkai bait untuk kutanam di dada
menjelma cahaya ketika aku gelap memahami maknanya
menjelma getar ketika kunyanyikan sebagai rindu
menjelma bara ketika kusesap aroma nafasmu.
Di depanku kamu masih berdiri. Molek tubuhmu tak berhenti menatapku
Aduh kamu, betapa indah puisi yang kausimpan di sudut-sudut lekukmu.
Tatapan apakah yang kamu rahasiakan di matamu,
………………aku membaca tak habis-habisnya terkesima
Ciuman apakah yang kamu rahasiakan di bibirmu yang merah,
………………
aku mengecup tak habis-habisnya gairah
Bisik apakah yang kamu rahasiakan di telingamu,
………………
tak bosan-bosannya kudesahkan rayu
Debar apakah yang kamu rahasiakan di hatimu,
………………
aku menerjemahkan sampai membuka-buka dada.

“Aku adalah puisi yang kamu tulis,” kamu tak berhenti menatapku.

Penari Dalam Mimpi........

Sudah kuduga, kamulah penari
yang datang ke dalam mimpi.
Meliuk-liukkan tubuh
lampai berputar memainkan lengan
mengalungkan selendang mayang
mengajakku melantai di antara
bintang-bintang.
Langkah-langkahmu menyulam dalam langkahku
menciptakan rajutan yang menjerat hatiku.
Sudah kuduga, kamulah penari yang datang
mengubah mimpi.